Faktagarut.id | GARUT – Di balik seragam sekolah yang dikenakannya setiap hari, Aditia, siswa kelas XI SMK Pasundan, menyimpan kisah perjuangan yang tidak banyak diketahui.
Di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi rumah yang memprihatinkan, Aditia tetap berusaha menjalani aktivitasnya sebagai seorang pelajar. Sekolah menjadi bagian penting dalam hidupnya, sekaligus harapan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Anggota DPRD Kabupaten Garut Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan, setelah menerima informasi mengenai kondisi Aditia dari warga melalui media sosial TikTok dan WhatsApp.
Yudha kemudian mendatangi langsung kediaman Aditia di Kampung Dayeuhhandap, RW 29, RT 01, Kelurahan Kota Kulon, Kecamatan Garut Kota, untuk melihat kondisi keluarga tersebut dari dekat.
Menurut Yudha, berdasarkan pengecekan melalui Sistem Informasi Keluarga Sosial, keluarga Aditia tercatat dalam kategori desil satu.
“Setelah saya cek melalui aplikasi Sistem Informasi Keluarga Sosial, Adit dan keluarga ini dikategorikan dalam desil satu, berarti keluarga yang sangat miskin. Karena itu saya datang untuk melihat langsung kondisi Adit dan keluarganya,” ujar Yudha.

Kondisi keluarga Aditia semakin berat karena sang ayah, Sandi (44), telah lama mengalami sakit dan lebih banyak beraktivitas dari rumah.
Aditia diketahui tinggal bersama ayahnya, kakeknya Kusnadi (75), serta pamannya, Candra (43). Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga, Candra berusaha mencari penghasilan dengan menjadi pedagang keliling.
Situasi tersebut membuat keluarga harus membagi perhatian antara kebutuhan sehari-hari, kondisi kesehatan, serta keberlanjutan pendidikan Aditia.
Meski berada dalam keterbatasan, Aditia tetap berusaha mempertahankan pendidikannya. Bagi dirinya, sekolah bukan sekadar kewajiban, tetapi juga salah satu jalan untuk membangun masa depan.
Lanjut disampaikan Yudha, pihaknya menilai persoalan yang dihadapi keluarga Aditia tidak cukup dilihat hanya dari sisi bantuan sosial. Kondisi kesehatan keluarga, tempat tinggal, serta keberlanjutan pendidikan Aditia juga membutuhkan perhatian dari pihak terkait.
“Yang paling penting, Adit tetap bisa melanjutkan sekolah dan mendapatkan perhatian yang memang dibutuhkan oleh keluarganya,” tegas Yudha.
Menurutnya, kondisi faktual keluarga di lapangan perlu menjadi perhatian dalam proses verifikasi dan pemutakhiran data penerima bantuan sosial. Pasalnya, status administrasi dalam sistem perlu dilihat bersama dengan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat.
Selain itu. Berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan, keluarga tersebut sebelumnya pernah menerima Program Keluarga Harapan (PKH). Namun, saat ini bantuan tersebut tidak lagi diterima karena status keluarga tercatat “Exclude” dalam sistem. Status tersebut masih perlu diklarifikasi kepada pihak terkait untuk mengetahui penyebab serta mekanisme perubahan status bantuan.
Hal itu dinilai penting agar proses pemutakhiran data dapat dilakukan berdasarkan kondisi faktual keluarga di lapangan.
Sebab, di balik sebuah status administratif terdapat kondisi nyata yang perlu diperhatikan seperti ayah Aditia yang sedang sakit, seorang anak yang masih menempuh pendidikan, serta anggota keluarga yang berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan penghasilan terbatas.
Kunjungan Yudha ke rumah Aditia turut didampingi Ketua RW 29 Jamjam Nurjaman dan Ketua RW 17 Wahyu Samsudin. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung kondisi masyarakat sekaligus memastikan persoalan yang dihadapi keluarga Aditia dapat diketahui oleh pihak-pihak terkait.
Bagi Yudha, perhatian kepada masyarakat dalam kondisi rentan tidak semestinya berhenti pada kunjungan. Perlu ada tindak lanjut sesuai kebutuhan dan kewenangan masing-masing pihak.
Kisah Aditia memperlihatkan bahwa persoalan sosial tidak selalu dapat dibaca hanya melalui angka dan data administratif.
Ada keluarga yang tercatat dalam sistem dengan status tertentu, tetapi di lapangan menghadapi persoalan yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Aditia masih memiliki perjalanan panjang untuk menyelesaikan pendidikannya. Ia masih memiliki kesempatan untuk mengejar cita-cita dan membangun masa depan.
Karena itu, perhatian terhadap keluarga Aditia diharapkan dapat berlanjut melalui verifikasi kondisi keluarga, akses terhadap bantuan yang sesuai, perhatian terhadap kesehatan sang ayah, serta dukungan agar Aditia dapat terus melanjutkan pendidikan.
Meski ditengah keterbatasan rumah yang tidak layak huni dan kondisi ekonomi keluarga, Aditia masih mempertahankan satu hal yakni harapan untuk tetap sekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik, dan kini. Harapan tersebut membutuhkan kepedulian nyata dari lingkungan sekitar dan pihak-pihak terkait yang memiliki kewenangan untuk memberikan dukungan. (Indra R|Fakta)















































