Jumat, September 18, 2026
Beranda PENDIDIKAN KKN-Gradasi 2026 Geser Fokus, Dari Ekonomi Kini Bidik Kesehatan

KKN-Gradasi 2026 Geser Fokus, Dari Ekonomi Kini Bidik Kesehatan

Faktagarut.id | GARUT – Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Gotong Royong Akademisi Bersinergi dan Berinovasi (KKN-Gradasi) Tahun 2026 resmi dimulai setelah 224 mahasiswa dari lima perguruan tinggi dilepas di Gedung Pendopo Garut, Jumat (18/9/2026).

Koordinator Pelaksanaan KKN-Gradasi 2026, Gugum, mengatakan pelaksanaan tahun ini memiliki fokus berbeda dibandingkan kegiatan KKN pada tahun sebelumnya. Jika sebelumnya program lebih banyak diarahkan pada penguatan ekonomi melalui konsep one village, one product, KKN-Gradasi 2026 lebih menitikberatkan pada persoalan kesehatan di desa.

“Yang difokuskan adalah masalah utama pelaksanaan di desa, bagaimana melakukan identifikasi dan membuat fondasi atas penyelesaian persoalan-persoalan di desa. Untuk tahun ini difokuskan kepada persoalan kesehatan,” ujar Gugum saat ditemui Faktagarut.id usai pelepasan KKN-Gradasi di Gedung Pendopo Garut.

Menurutnya, sejumlah isu kesehatan menjadi perhatian dalam pelaksanaan KKN-Gradasi tahun ini, di antaranya persoalan stunting, kesehatan ibu dan anak, serta angka kematian ibu dan anak.

Dr. Gugun menjelaskan, perbedaan KKN-Gradasi 2026 dengan pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya terutama terletak pada lokus kegiatan dan isu strategis yang menjadi fokus mahasiswa.

Keterangan foto: Koordinator Pelaksanaan KKN-Gradasi 2026, Dr. Gugum, saat ditemui Faktagarut.id usai kegiatan pelepasan mahasiswa peserta KKN-Gradasi di Gedung Pendopo Garut, Jumat (18/9/2026).

“Yang pertama lokus, kemudian yang kedua isu strategis. Kalau tahun sebelumnya ada one village, one product, lebih dititikberatkan kepada ekonomi. Sekarang lebih dititikberatkan kepada isu kesehatan,” katanya.

Meski demikian, Gugum menegaskan bahwa setiap desa tetap memiliki persoalan dan karakteristik yang berbeda. Karena itu, mahasiswa tidak hanya menjalankan program secara seragam, tetapi diharapkan mampu menyesuaikan program dengan kebutuhan masing-masing wilayah.

“Walaupun masing-masing desa punya persoalan dan identitas yang berbeda, tetapi fokus utamanya sementara adalah kesehatan,” ujarnya.

Lanjutnya. KKN-Gradasi 2026 melibatkan sebanyak 224 mahasiswa yang ditempatkan pada 16 lokus, terdiri dari 15 desa dan satu kelurahan yang tersebar di 16 kecamatan.

Para mahasiswa tersebut berasal dari lima perguruan tinggi, yakni universitas, Institut Teknologi Garut, Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut, Institut Kesehatan Karsa Usada, serta satu perguruan tinggi lainnya yang tergabung dalam pelaksanaan KKN-Gradasi 2026.

Untuk memastikan program berjalan sesuai target, panitia juga menyiapkan sistem pemantauan berbasis digital melalui dashboard.

Gugum mengatakan, setiap mahasiswa diwajibkan merancang program dan memasukkan perkembangan pelaksanaannya ke dalam dashboard yang telah disiapkan.

“Kita punya semacam dashboard laporan yang bisa kita evaluasi setiap hari. Setiap hari mereka diwajibkan untuk merancang program, kemudian program itu dimasukkan ke dalam dashboard atau aplikasi. Nanti kita memantau progresnya,” jelasnya.

Menurut Gugum, sistem tersebut menjadi bagian dari mekanisme monitoring dan evaluasi agar program yang dijalankan mahasiswa tetap berada pada jalur yang telah ditentukan.

Ia menilai koordinasi pelaksanaan KKN-Gradasi dari tahun ke tahun juga mengalami perkembangan positif. Tahun 2026 merupakan tahun ketiga pelaksanaan program tersebut.

“Alhamdulillah, karena kita sudah melaksanakan kegiatan ini tiga tahun, rasanya sudah semakin baik, baik koordinasinya, kolaborasinya, maupun perhatian dari teman-teman pemerintah daerah juga sudah semakin bagus,” katanya.

Ia berharap pelaksanaan KKN-Gradasi tahun ini dapat berjalan lebih baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat desa.

Gugum juga menyampaikan pesan kepada para mahasiswa yang akan terjun langsung ke tengah masyarakat. Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak menjadikan program KKN sebagai ruang untuk mengedepankan kepentingan atau ego pribadi.

“Kami mengimbau kepada mahasiswa untuk tetap rendah hati. Tugas utama mereka adalah membantu masyarakat desa. Jadi program-program yang mereka inisiasi harusnya bersandar kepada itu, bukan ego mereka,” tegasnya.

Menurutnya, mahasiswa memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat menjadi modal penting dalam pelaksanaan KKN. Namun, seluruh kemampuan tersebut perlu diselaraskan dengan kondisi serta kebutuhan masyarakat di masing-masing desa.

“Tentu mereka punya pengetahuan, punya skill, tapi pengetahuan dan skill itu perlu diselaraskan dengan kondisi desa,” pungkas Gugum.

Dengan fokus pada isu kesehatan serta dukungan sistem monitoring berbasis digital, KKN-Gradasi 2026 diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu menjadi bagian dari proses identifikasi dan penyusunan fondasi penyelesaian persoalan masrakat di tingkat desa. (Indra R|Fakta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read