Faktagarut.id || JAKARTA. — Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) KSPSI AGN 2025 di Istora Senayan, Jakarta, tidak hanya menjadi ajang konsolidasi besar-besaran para pekerja dari seluruh Indonesia. Dalam momentum penuh makna tersebut, ribuan peserta memberikan penghormatan khusus kepada sosok legendaris perjuangan buruh Indonesia, Ibu Marsinah.
Pada layar utama Istora Senayan, terpampang jelas wajah sang pahlawan buruh, lengkap dengan tanggal kelahiran dan wafatnya: 10 April 1969 – 8 Mei 1993. Visual tersebut sontak membuat suasana ruang rapimnas hening dan khidmat, disertai tepuk tangan panjang sebagai wujud penghormatan.
Marsinah, Simbol Keberanian dan Keadilan
Dalam sesi penghormatan tersebut, KSPSI AGN menegaskan bahwa perjuangan Marsinah akan selalu menjadi inspirasi utama dalam gerakan buruh. Marsinah bukan sekadar nama dalam buku sejarah — ia adalah simbol keberanian yang melampaui rasa takut, bukti bahwa ketidakadilan bisa dilawan dengan keteguhan hati meski nyawa menjadi taruhannya.
“Ibu Marsinah mengajarkan bahwa keadilan kadang menuntut keberanian yang lebih besar dari rasa takut. Suaranya mungkin dibungkam, tapi keberaniannya tak pernah bisa dipadamkan,” ujar salah satu pimpinan KSPSI dalam sesi penghormatan.
Sejumlah peserta Rapimnas yang hadir pun terlihat mengabadikan momen tersebut. Ribuan buruh yang memenuhi tribun memberikan salam hormat, menandai bahwa warisan moral Marsinah tetap hidup di dada para pekerja Indonesia.
Ribuan Buruh Menyaksikan Penghargaan di Istora Senayan
Penghormatan kepada Marsinah berlangsung di hadapan ribuan peserta dari berbagai provinsi. Tribun Istora Senayan tampak semarak dengan warna seragam organisasi yang memenuhi arena. Meski hadir dengan semangat tinggi untuk berdiskusi tentang arah kebijakan perburuhan tahun 2025–2026, momen penghormatan ini justru menjadi titik emosional yang menyatukan seluruh peserta.
Banyak buruh, khususnya dari Jawa Timur, daerah asal Marsinah tampak menahan haru ketika foto sang pahlawan buruh ditampilkan di layar raksasa. Acara seketika berubah dari suasana formal menuju refleksi bersama akan perjuangan kaum pekerja.
Hingga kini, Marsinah dikenang sebagai salah satu simbol perjuangan melawan ketidakadilan tenaga kerja di Indonesia. Ia tidak pernah mengangkat senjata, tidak pernah berdiri di panggung besar, tetapi keberaniannya menolak penindasan menjadikannya suara abadi dalam gerakan buruh.
Rapimnas KSPSI AGN 2025 menegaskan kembali pesan moral tersebut: perjuangan buruh bukan hanya soal upah atau aturan kerja, tetapi soal martabat manusia.
Dengan ditampilkannya nama dan wajah Marsinah di salah satu forum ketenagakerjaan terbesar di Indonesia, KSPSI ingin memastikan generasi buruh masa kini dan mendatang tidak melupakan sejarah. Ia adalah pengingat bahwa setiap langkah perjuangan hari ini berdiri di atas fondasi keberanian orang-orang seperti Marsinah.
Rapimnas tahun ini bukan hanya bicara strategi organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat ingatan dan menghormati pahlawan yang telah membuka jalan bagi perjuangan buruh modern. (Indra R|Fakta)





