Faktagarut.id | GARUT — Di tengah gempuran kuliner modern yang kian mendominasi ruang-ruang kota, sebuah gerobak sederhana di depan RSUD dr Slamet Garut justru menyimpan kisah panjang tentang ketekunan, warisan, dan rasa yang tak lekang oleh waktu.
Adin (67), warga Kampung Sukapadang, Kecamatan Tarogong Kidul, mungkin tak pernah membayangkan bahwa usaha kecilnya menjajakan bandros akan bertahan lintas generasi. Ia memulai segalanya dari nol, bahkan jauh sebelum letusan besar Gunung Galunggung menjadi penanda zaman bagi masyarakat Priangan.
Di usianya yang kini senja, tongkat estafet itu telah berpindah ke tangan anak-anaknya. Salah satunya, Hendri (37), yang setia melanjutkan tradisi keluarga. Di lokasi yang sama sejak era 1980-an, tepat di gerbang rumah sakit, aroma santan dan kelapa parut yang dipanggang masih setia menyapa siapa saja yang melintas.
“Dari dulu tidak pernah pindah. Di sini saksi hidup perjalanan usaha orang tua,” ujar Hendri pelan, sambil menuangkan adonan ke dalam cetakan panas jumat (1 Mei 2026) malam.

Hendri (37) saat membuat bandros di gerobak sederhana di depan RSUD dr Slamet Garut, melanjutkan usaha turun-temurun yang telah bertahan sejak puluhan tahun lalu. (Foto oleh: Indra R)
Bandros atau kue tradisional berbahan dasar tepung beras, santan, kelapa parut, dan daun pandan, memang bukan lagi primadona di etalase kuliner masa kini. Namun, di tangan keluarga Adin, ia menjelma menjadi simbol ketahanan usaha mikro yang tak tergilas zaman.
Proses pembuatannya pun masih dijaga dengan cara lama. Takaran bahan tidak diukur dengan timbangan modern, melainkan berdasarkan rasa dan pengalaman puluhan tahun.
Adonan direbus hingga mengental, kemudian dicampur kelapa parut, telur, dan air secara perlahan, sebelum akhirnya dituangkan ke dalam cetakan menyerupai kue pukis.
Tak ada mesin, tak ada resep digital. Hanya ingatan, kebiasaan, dan kesabaran.
Di balik kesederhanaannya, bandros ini menyimpan filosofi yang dalam. Ia bukan sekadar makanan, melainkan cerita tentang bagaimana usaha kecil bertahan di tengah perubahan. Tentang bagaimana nilai keluarga diwariskan bukan lewat kata-kata, melainkan melalui kerja keras yang nyata.
Harga yang tetap terjangkau menjadi alasan lain mengapa pelanggan lama terus kembali. Sebagian datang bukan hanya untuk membeli, tetapi untuk mengenang masa ketika jajanan tradisional menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Dalam lanskap bisnis kuliner yang kini serba cepat dan instan, kisah Adin dan keluarganya menghadirkan perspektif berbeda. Bahwa keberlanjutan usaha tidak selalu ditentukan oleh inovasi besar atau modal kuat, melainkan oleh konsistensi, kejujuran rasa, dan kedekatan dengan pelanggan.
Bandros di depan RSUD dr Slamet mungkin tampak sederhana. Namun di balik asap tipis dari cetakannya, tersimpan harapan bahwa tradisi tak harus punah, selama masih ada yang setia menjaganya. (Indra Ramdani)





































