Faktagarut.id || ACEH Tamiang.- Air banjir telah surut di Aceh Tamiang. Namun lumpur yang tertinggal masih menyimpan cerita kehilangan. Rumah-rumah yang sempat terendam kini berdiri dalam diam, sementara penghuninya berusaha mengumpulkan kembali sisa-sisa kehidupan.
Di tengah lanskap pascabencana itu, sebuah rombongan dari Jawa Barat datang membawa amanah kemanusiaan, bukan untuk seremoni, melainkan untuk berbagi rasa.
Kepala Desa Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Sam Sakti Alamsyah, hadir langsung di lokasi bencana. Ia mewakili Pengurus DPD APDESI Jawa Barat dan DPC APDESI Kabupaten Garut untuk menyerahkan bantuan kepedulian bagi warga terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis, (8 Januari 2025.)
Bantuan berupa logistik kebutuhan dasar tersebut diterima di Posko Bantuan DPC APDESI Aceh Tamiang, sebelum disalurkan kepada warga yang terdampak paling parah. Karung sembako, perlengkapan kebutuhan harian, dan bantuan lain mungkin tampak sederhana.
Namun bagi penyintas banjir, bantuan itu menjadi penyangga hidup di masa paling rapuh.Sam Sakti memilih datang sendiri. Ia ingin memastikan bantuan sampai dan diterima oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.
“Kami datang membawa amanah dari warga Desa Jayaraga dan rekan-rekan kepala desa di Jawa Barat. Ini bukan sekadar bantuan barang, tapi wujud persaudaraan antardesa,” ujar ia melalui sambungan selurnya.
dalam sambutan singkat yang disampaikan dengan nada tertahan. Menurut Sam Sakti, bencana alam adalah ujian bersama. Ketika satu wilayah dilanda musibah, daerah lain tidak boleh hanya menjadi penonton.
“Hari ini Aceh Tamiang diuji. Besok bisa jadi kami. Solidaritas inilah yang harus terus dijaga,” katanya.
Di posko bantuan, suasana berlangsung sederhana. Tak ada panggung megah. Lantai masih basah oleh sisa lumpur, dan jejak sepatu relawan bercampur tanah basah. Sejumlah warga berdiri berderet, sebagian memeluk bantuan yang baru diterima, sebagian lain menunduk, menyembunyikan kelelahan dan duka yang belum sepenuhnya pulih.
Peran APDESI dalam penyaluran bantuan menjadi simpul penting solidaritas antarwilayah. Jaringan pemerintahan desa yang selama ini bekerja di lingkup lokal, kali ini bergerak lintas provinsi. Dari Garut ke Aceh Tamiang, desa-desa saling menyapa dalam bahasa yang sama: kepedulian.
Bagi warga terdampak, kehadiran rombongan dari jauh memberi arti tersendiri. Bukan hanya karena bantuan yang dibawa, tetapi karena perhatian yang menyertai. Ada rasa diingat, ada pengakuan bahwa penderitaan mereka tidak luput dari perhatian saudara sebangsa.
Aceh Tamiang masih membutuhkan waktu untuk bangkit. Rumah harus dibersihkan, fasilitas diperbaiki, dan trauma perlahan disembuhkan. Namun di antara sisa-sisa banjir itu, terselip pesan yang tak mudah hanyut: bahwa ketika bencana datang, solidaritas manusia bisa menjembatani jarak, bahkan dari desa kecil di Garut, Jawa Barat. (Indra R|Fakta)





